Panen Perdana Lele di Desa Pelapis, Hasil Program CSR Dukung Ekonomi Nelayan

13 Januari 2026 13:59 WIB
Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Desa Pelapis, perwakilan manajemen PT Dharma Inti Bersama, Camat Kepulauan Karimata, dan Plt Kadis Kelautan dan Perikanan Kayong Utara pada panen perdana Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar, Sabtu (). Budi daya Ikan Air Tawar merupakan bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi yang digagas oleh PT Dharma Inti Bersama bersama masyarakat Pelapis.

KAYONG UTARA, insidepontianak.com — Masyarakat Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, berhasil melaksanakan panen perdana budidaya ikan air tawar pada awal Januari 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari Program Corporate Social Responsibility (CSR) bidang peningkatan ekonomi yang digagas masyarakat setempat bersama PT Dharma Inti Bersama (DIB), pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

Panen perdana tersebut dilaksanakan pada Sabtu (10/1/2026) di empat kolam terpal yang tersebar di tiga dusun. Dari panen tersebut, sekitar 700 kilogram ikan lele berhasil diproduksi. Meski sempat diguyur hujan ringan, proses panen berjalan lancar dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat.

Selama ini, masyarakat Desa Pelapis dikenal sebagai nelayan tangkap yang menggantungkan penghidupan dari laut. Budidaya ikan air tawar menjadi alternatif usaha untuk menopang ekonomi warga, terutama saat kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut. Budidaya lele di kolam terpal dinilai adaptif dan sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.


Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Desa Pelapis, perwakilan manajemen Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Camat Kepulauan Karimata, dan Plt Kadis Kelautan dan Perikanan Kayong Utara menunjukkan hasil panen perdana Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar, bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi yang digagas oleh PT Dharma Inti Bersama bersama masyarakat Pelapis/IST

Ketua Kelompok Budidaya Ikan Air Tawar Desa Pelapis, Suaka, mengapresiasi pendampingan yang diberikan melalui program CSR tersebut. Ia berharap budidaya ikan air tawar dapat terus dikembangkan dan menjadi contoh bagi dusun lainnya.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan atas masukan dan program untuk masyarakat Pelapis. Mudah-mudahan budidaya ikan air tawar di RT 3 ini bisa menjadi tolok ukur bagi dusun lainnya,” ujarnya.

Ia mengakui proses budidaya tidak selalu berjalan mulus. Namun, pendampingan rutin dari tenaga lapangan PT DIB dalam memantau kualitas air dan pengaturan pakan mampu meminimalkan kendala.

“Kadang airnya kurang bagus dan ada penyakit, tapi alhamdulillah ikan yang sakit hanya satu dua,” katanya.

Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, menyampaikan bahwa perubahan pola pikir masyarakat nelayan tangkap memang membutuhkan waktu. Namun, panen perdana ini menjadi bukti bahwa diversifikasi penghidupan dapat diwujudkan.

“Alhamdulillah, hasil budidaya ikan air tawar ini bagus,” ujarnya.

Menurut Mikrad, budidaya lele membuka peluang penghasilan tambahan bagi masyarakat, terutama saat musim paceklik akibat cuaca buruk. Ia juga menilai keberadaan PT DIB yang siap menyerap hasil panen menjadi keunggulan tersendiri bagi Desa Pelapis.

Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kayong Utara, Hendra, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat. Ia menekankan bahwa keberhasilan budidaya membutuhkan proses belajar dan kesabaran.

“Sekali dua kali gagal itu biasa. Budidaya ini memang butuh proses,” ujarnya.

Hendra menambahkan, keunggulan Desa Pelapis terletak pada kepastian pasar. Ia mendorong pengembangan budidaya tidak hanya pada pembesaran, tetapi juga diarahkan ke pembibitan dan pakan mandiri agar lebih berkelanjutan.

Sementara itu, Government Relation Manager PT Dharma Inti Bersama, Seno Ario Wibowo, menyampaikan bahwa panen perdana tersebut merupakan hasil kerja keras bersama antara masyarakat dan perusahaan.

“Alhamdulillah, kita sudah merasakan hasil jerih payah dalam mengembangkan budidaya lele ini,” ujarnya.

Ia menegaskan perusahaan siap menyerap seluruh hasil panen sebagai bantalan ekonomi masyarakat, khususnya saat musim paceklik.

Ke depan, berdasarkan masukan tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ikan lele akan diolah melalui proses marinasi untuk memperpanjang masa simpan, dengan melibatkan ibu-ibu Desa Pelapis dalam proses pengolahan dan pengemasan vakum.

Panen perdana ini tidak hanya menjadi capaian produksi, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat Desa Pelapis bahwa diversifikasi penghidupan dapat diwujudkan melalui pendampingan dan kolaborasi yang berkelanjutan. (*)


Penulis : Fauzi/bis
Editor : Wati Susilawati

Leave a comment

Ok

Berita Populer

Seputar Kalbar