Gelombang Tinggi, Nelayan Jawai Sambas Makin Sulit Melaut

14 Januari 2026 13:52 WIB
Iskandar, Nelayan di Kecamatan Jawai saat menceritakan sulitnya melaut dengan minimnya pasokan solar, Rabu (14/1/2026). (insidepontianak.com/Antonia Sentia).

SAMBAS, insidepontianak.com - Iskandar telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di laut. Setiap subuh, nelayan asal Kecamatan Jawai itu menggantungkan harapan pada mesin perahunya dan pada solar yang kini semakin sulit didapat.

“Kalau perahu besar, sehari perlu sekitar 10 liter solar. Perahu kecil cukup 2 liter,” katanya lirih. Angka itu terdengar sederhana, tetapi di lapangan, kebutuhan 
tersebut sering tak terpenuhi.

Tak jarang, Iskandar kehabisan bahan bakar di tengah laut. Mesin mati, ombak bergulung, dan waktu seakan berhenti. 

“Kadang satu sampai dua hari baru bisa sampai ke tepi,” tuturnya.

Ia hanya bisa berharap ada kapal teman yang melintas. Jika tidak, layar dipasang, menunggu angin yang membawa perahunya perlahan mendekat ke daratan.

Situasi semakin berat ketika musim gelombang tinggi datang. Cuaca tak menentu membuat melaut penuh risiko, sementara ketersediaan solar justru makin terbatas. Bagi Iskandar dan nelayan lainnya di Jawai, kondisi ini bukan sekadar persoalan logistik, melainkan soal keselamatan dan keberlangsungan hidup.

“Kami sangat berharap pemerintah benar-benar memberi tambahan kuota solar untuk nelayan di Jawai,” ucapnya penuh harap.

Baginya, laut bukan pilihan, melainkan jalan hidup. Dari sanalah ia menghidupi anak dan istrinya. Setiap liter solar adalah bekal untuk pulang dan setiap kebijakan yang berpihak pada nelayan adalah penopang bagi keluarga-keluarga yang hidup dari gelombang dan angin. (*)


Penulis : Antonia Sentia
Editor : -

Leave a comment

ok

Berita Populer

Seputar Kalbar